Teks : Amalia Rosyid, Suci Trianingrum, Foto : Farida Destiana

Kami turun ke jalan–kami gabungan mahasiswa, dosen, buruh, seniman dan masyarakat sipil di Yogyakarta merayakan sesuatu yang sempat mati: meneriakkan suara kepada publik melalui aksi #GejayanMemanggil. Semua tumpah ruah ke jalan, masyarakat, perempuan, laki-laki, dari berbagai daerah di Indonesia, dari penganut berbagai agama, menyimbolkan Bhinneka Tunggal Ika: perbedaan multikutural dalam satu suara yang sama. Menuntut pemerintah menengok kembali penetapan dan penolakan rancangan undang-undang, guna menegaskan masihkah pemerintahan ini ada untuk rakyat, atas segala usaha revisi undang-undang itu?
Sederhana saja, sebenarnya, momen ini adalah momen sakral dalam kehidupan keseharian kita, bahwa demokrasi yang sejak dini diajarkan di bangku-bangku sekolah, kami resapi kembali. Momen ini adalah momen menggali sensitivitas kita, sebab, negara ini sedang tidak baik-baik saja. Begitu peliknya hingga keresahan begitu memuncak; kebakaran hutan, kasus papua, RKUHP, RUU PKS, UU pertanahan, UU ketenagakerjaan, UU KPK dan masih banyak lagi.
Kami semua tentu saja merasa resah, kemudian menghendaki Kalimantan dan Riau bebas dari pembakaran hutan, dan lebih lagi, dari asap yang menyusahkan. Juga kedamaian dan kesetaraan untuk saudara-saudara di Papua. Kami menuntut keberpihakan pemerintah pada rakyat, pada demokrasi, menghidupkan kembali dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Bagaimanapun, kami tidak boleh patuh pada otoritas rezim yang menindas rakyatnya sendiri.
Hingga pada akhirnya, kesesakan itu menjadi mosi tidak percaya. Pada 23 September, kami sepakat untuk turun ke jalan, menyuarakan hal-hal yang harus kami suarakan sebagai warga negara, sebagai rakyat, pemilik sah negeri ini. Bahwa ada hal yang tak beres dari laju pemerintahan ini, kita tak boleh tinggal diam “DPR ngawur, ayo ngegas, jangan kasih kendor”.
Pertigaan Gejayan sebagai lokasi aksi #GejayanMemanggil, menilik kembali aksi di tempat yang sama pada tahun 1998, berharap hari ini melanjutkan perjuangan-perjuangan yang dahulu. Maka di tempat itulah kami kemudian bergabung. Sebelum sampai di Pertigaan Gejayan, mahasiswa melakukan longmarch dari 3 titik kumpul; Bunderan UGM, Universitas Sanata Dharma, dan UIN Sunan Kalijaga. Segera setelah bergerak dari tempat masing-masing, tiga ruas jalan di Pertigaan Gejayan lantas penuh dengan massa, “Jogja Bersatu tak bisa dikalahkan”, dan sorakan lainnya mengangkasa. Disusul lagu Darah Juang dan tangan-tangan yang terkepal. Tidak lupa, himbauan untuk mengelola sampah agar jalanan tetap bersih. Sore itu di bawah langit Gejayan, orasi disuarakan. Dalam damai aksi berjalan, dan dengan tertib barisan disatukan.
Adalah terimakasih untuk hal yang indah ini. Pergerakan hari itu adalah bagian dari perjuangan yang sedang berlangsung di seluruh negeri. Mahasiswa, dosen, buruh, seniman, dan masyarakat sipil yang menjadi satu, melakukan apa yang mesti kita lakukan sebagai bagian dari warga negara dan menghidupkan kembali yang sedang mati suri, demokrasi Indonesia. Berpartisipasi untuk Indonesia, agar segera bangun dan menyongsong sinarnya lagi, untuk rakyat. Membawa suara-suara perjuangan yang beraneka: poster-poster tuntutan, hentak kaki satu tujuan, teriakan-teriakan rakyat, dan juga buah-buahan yang dilempar dari loteng salah satu ruko sebagai bentuk dukungan.
“Sebab, kembali lagi, kita adalah tuan rumah bagi diri kita sendiri. Semoga usaha ini pada akhirnya memunculkan kabar baik: telah lahir kembali, demokrasi kita”.










