Ode untuk Rakyat

Teks : Amalia Rosyid, Suci Trianingrum, Foto : Farida Destiana

LRM_EXPORT_101523886485826_20190924_104325175

Kami turun ke jalan–kami gabungan mahasiswa, dosen, buruh, seniman dan masyarakat sipil di Yogyakarta merayakan sesuatu yang sempat mati: meneriakkan suara kepada publik melalui aksi #GejayanMemanggil. Semua tumpah ruah ke jalan, masyarakat, perempuan, laki-laki, dari berbagai daerah di Indonesia, dari penganut berbagai agama, menyimbolkan Bhinneka Tunggal Ika: perbedaan multikutural dalam satu suara yang sama. Menuntut pemerintah menengok kembali penetapan dan penolakan rancangan undang-undang, guna menegaskan masihkah pemerintahan ini ada untuk rakyat, atas segala usaha revisi undang-undang itu?

Sederhana saja, sebenarnya, momen ini adalah momen sakral dalam kehidupan keseharian kita, bahwa demokrasi yang sejak dini diajarkan di bangku-bangku sekolah, kami resapi kembali.  Momen ini adalah momen menggali sensitivitas kita, sebab, negara ini sedang tidak baik-baik saja. Begitu peliknya hingga keresahan begitu memuncak; kebakaran hutan, kasus papua, RKUHP, RUU PKS, UU pertanahan, UU ketenagakerjaan, UU KPK  dan masih banyak lagi.

Kami semua tentu saja merasa resah, kemudian menghendaki Kalimantan dan Riau bebas dari pembakaran hutan, dan lebih lagi, dari asap yang menyusahkan. Juga kedamaian dan kesetaraan untuk saudara-saudara di Papua. Kami menuntut keberpihakan pemerintah pada rakyat, pada demokrasi, menghidupkan kembali dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Bagaimanapun, kami tidak boleh patuh pada otoritas rezim yang menindas rakyatnya sendiri.

Hingga pada akhirnya, kesesakan itu menjadi mosi tidak percaya. Pada 23 September, kami sepakat untuk turun ke jalan, menyuarakan hal-hal yang harus kami suarakan sebagai warga negara, sebagai rakyat, pemilik sah negeri ini. Bahwa ada hal yang tak beres dari laju pemerintahan ini, kita tak boleh tinggal diam “DPR ngawur, ayo ngegas, jangan kasih kendor”.

Pertigaan Gejayan sebagai lokasi aksi #GejayanMemanggil, menilik kembali aksi di tempat yang sama pada tahun 1998, berharap hari ini melanjutkan perjuangan-perjuangan yang dahulu. Maka di tempat itulah kami kemudian bergabung. Sebelum sampai di Pertigaan Gejayan, mahasiswa melakukan longmarch dari 3 titik kumpul; Bunderan UGM, Universitas Sanata Dharma, dan UIN Sunan Kalijaga. Segera setelah bergerak dari tempat masing-masing, tiga ruas jalan di Pertigaan Gejayan lantas penuh dengan massa, “Jogja Bersatu tak bisa dikalahkan”, dan sorakan lainnya mengangkasa. Disusul lagu Darah Juang dan tangan-tangan yang terkepal. Tidak lupa, himbauan untuk mengelola sampah agar jalanan tetap bersih. Sore itu di bawah langit Gejayan, orasi disuarakan. Dalam damai aksi berjalan, dan dengan tertib barisan disatukan.

Adalah terimakasih untuk hal yang indah ini. Pergerakan hari itu adalah bagian dari perjuangan yang sedang berlangsung di seluruh negeri. Mahasiswa, dosen, buruh, seniman, dan masyarakat sipil yang menjadi satu, melakukan apa yang mesti kita lakukan sebagai bagian dari warga negara dan menghidupkan kembali yang sedang mati suri, demokrasi Indonesia. Berpartisipasi untuk Indonesia, agar segera bangun dan menyongsong sinarnya lagi, untuk rakyat. Membawa suara-suara perjuangan yang beraneka: poster-poster tuntutan, hentak kaki satu tujuan, teriakan-teriakan rakyat, dan juga buah-buahan yang dilempar dari loteng salah satu ruko sebagai bentuk dukungan.

Sebab, kembali lagi, kita adalah tuan rumah bagi diri kita sendiri. Semoga usaha ini pada akhirnya memunculkan kabar baik: telah lahir kembali, demokrasi kita”.

LRM_EXPORT_66867060901756_20190923_203528683

LRM_EXPORT_67571507127526_20190923_204713038

LRM_EXPORT_68418321229177_20190923_210120390

LRM_EXPORT_65985169265425_20190923_202046791

LRM_EXPORT_65841791552981_20190923_201822740

LRM_EXPORT_136193380526127_20190924_212338102

LRM_EXPORT_136444322640510_20190924_212749044

lrm_export_137237784990878_20190924_214102014.jpeg

Kinanthi Sandung

PSX_20170506_100024

Mideringrat…

Ngelangut…

Lelono…

Njajah nagari…

Mubeng tepining samodro

Sumengko hagraning wukir

Hana lasak…

Wonowoso…

Tumurun mring…

Jurang trebis…

Indonesia, 1888

Suara meriam, tembakan, letusan peluru dari musuh tak dihiraukannya lagi. Di pikirannya kini hanyalah memenangkan semua ini, merebut Indonesia kembali, dan yang paling penting merebut istrinya dari tawanan Belanda.

Semua ini harus berakhir. Ia terlalu terpacu dengan pikirannya. Tak diduga sebuah peluru melesat tepat di lengannya “AHHHH!” pekiknya, kini ia melemparkan senjatanya di semak-semak tempatnya bersembunyi. Darah segar keluar deras dari lengannya. Segera saja seorang wanita datang menolongnya, tanpa obat bius, ia mengeluarkan peluru dari daging di lengannya. Sakitnya tak terkira pastinya. Tetapi ia tak memikirkan sakitnya lagi. Ia kini memikirkan kemenagan. Kemenangan untuk Indonesia juga untuk istrinya, Arum.

“Sudah selesai” ucap wanita itu. Lelaki itu menganggukkan kepalanya sebagai ucapan terimakasih.

Suara-suara yang mengerikan itu masih saja terdengar. Meskipun sang raja siang telah menyelesaikan tugasnya. Belanda tak ingin kalah dengan orang pribumi. Mereka mungkin punya senjata yang lengkap, kendaraan yang canggih. Mereka hanya punya satu kelemahan yang tidak dimengerti oleh orang pribumi. Mereka bertarung sendirian. Berbeda dengan orang pribumi yang sangat mengutamakan gotong royong. Jika lelah lelah semua, ya Belanda pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk mengalahkan Indonesia.

Rasa gusar menyelimuti Pria itu. Sedari tadi ia hanya memikirkan nasib istrinya. Istri dan anaknya tentunya. Mereka menjadi tawanan Belanda sejak seminggu yang lalu. Tak tahu dimana sekarang mereka berada. Tetapi kabar buruk didengarnya. Anak perempuannya, meninggal karena tertembak oleh tentara Belanda ketika ia bermain di luar. Ya anaknya satu-satunya kini telah tiada. Rasa sakit itu sangat dirasakannya, duka yang mendalam dirasakannya juga.

“Sabar Man, mungkin ini jalan Tuhan yang terbaik” ucap Jambali, rekannya

“Tetapi kenapa harus anakku?!”

“Jangan begitu kematian seseorang tak ada yang tahu. Bayi yang baru lahir saja mungkin bisa meninggal”

“Ya kau benar. Tetapi sampai kapan semuanya membaik?! Bahkan sekarang lihatlah, kita telah kehilangan hampir separuh dari pasukan kita, apa lebih baik kita menyerah?”

“TIDAK!!” pekik Jambali dengan memukul meja di depannya, hampir saja membuat Ardiman tersedak. “Tidak akan kita menyerah kepada Belanda!!”

“Tetapi lihatlah pasukan kita lama lama habis”

“Kita harus menyusun strategi untuk ini!!”

“Oke baiklah, mungkin besok aku ingin datang kepada Belanda untuk mengambil istriku”

“Terserahmu Man, tidurlah untuk besok”

Pria itu tersenyum pada rekannya. Bayang bayang kemenangan semakin jelas di benaknya. Mungkin pria itu terlalu berambisi untuk memenangkan semua ini. Tetapi ada satu hal yang tidak disadarinya.

Keesokan harinya…

Benar saja pria itu datang kepada Belanda. Para bodyguard telah bersiap, mereka siap siaga untuk melawan Ardiman. Dengan senjata yang lengkap mereka berdiri gagah di depan rumah tempat tentara Belanda berkumpul.

“Ada apa urusanmu kemari?” ucap salah satu dari mereka, dengan bahasa mereka tentunya. Pria itu mengerti, setiap hari ia menemukan kosa kata baru yang Belanda ucapkan.

“Aku ingin mengambil istriku!”

“Haha istrimu?! Sejak kapan?”

“Istriku diambil oleh bosmu! Kini aku ingin mengambilnya”

“Terlambat! Ia dibawa pulang ke Belanda, pasti ia akan dinikahi Bos Josh” ucap salah satu dari mereka, kemudian mereka tertawa bersama.

“Apa?!”

“Kalau kau tak percaya, yasudah mereka pulang kemarin lusa hahaha!!”

Dengan emosi ia pulang. Ia menyusun rencana untuk menyelinap di kapal milik Belanda yang akan pulang dengan membawa biji pala dan cengkeh besok pagi.

Setelah rencananya matang, ia tak segan segan datang lagi ke kediaman tentara Belanda, dengan menyamar mereka tak menyadari kehadiran pria itu. Cengkeh dan pala di bawa ke pelabuhan dengan truk, pria itu bergelantungan di ekor truk agar pasukan Belanda tak menyadarinya. Mereka sampai di pelabuhan. Bayang-bayang yang indah akan masa depan telah tergambar jelas di benaknya.

5 hari perjalanan di kapal dihabiskannya dengan tidur. Ia bahkan tak membawa bekal. Hanya air mineral yang mengganjal perutnya. Tak sia-sia ia menyelinap. Tentara Belanda bahkan tak menyadarinya.

Biji pala dan cengkeh dari Indonesia itu segera di pasok ke seluruh Belanda. Ia tak tahu harus kemana untuk mencari istrinya. Alamat orang Belanda itu saja ia tak punya. Ia hanya mengandalkan perasaannya untuk mencari istrinya. Ia yakin tak jauh dari keberadaan istrinya. Kemudian ia mencoba pergi ke kantor pemerintahan pusat di kota Amsterdam. Benar saja! Ia menemukan istrinya itu. Ia berbeda, menggunakan gaun layaknya putri kerajaan.

“Arum!! Arum!!” teriaknya dari kejauhan. Istrinya menoleh. Ia tercekat dengan kedatangan suaminya itu. Bagaimanapun juga ia merindukan suaminya itu. “Ayo sekarang kita kembali, kembali ke Indonesia arum!”

“Maaf aku tak bisa”

“Kenapa?! Kenapa tidak bisa?!”

“Aku sudah dinikahi oleh sersan Belanda”

“Apa?! Tapi kita belum berpisah”

“Tapi inilah kenyataannya!”

“Ohh tidak masalah kau lebih memilihnya”

“Maaf” wanita itu segera masuk, meninggalkannya di luar sendirian. Pria itu segera melangkahkan kakinya dari rumah dinas itu. Tanpa disadarinya istrinya mengikutinya dari belakang. Ia berjalan tanpa arah. Air mata yang meleleh tak dihiraukannya. Amarah yang memuncak kini dirasakannya. Sampai ia di sebuah hutan. Hutan yang sangat lebat. Gelap. Hanya satu atau dua sorot sinar matahari dari celah daun-daun yang lebat.

Lembah Spook. Tak sengaja ia menemukannya. Istrinya memekik kencang.

“JANGAAAANNN!” ia tersentak dengan keberadaan istrinya.

“Kenapa kau disini?!!”

“Aku khawatir denganmu”

“Oh” tanpa percakapan lagi. Memori indah bersama istrinya terputar seperti layaknya film yang diulang kembali. Ia muak! Ia kecewa dengan keputusan istrinya itu. Lereng yang terjal dan berbatu menganga di bawah sana. Ia memejamkan matanya dan berdesis “selamat tinggal…” seketika itu istrinya berteriak. Ia menangis kencang. Keputusannya pun sama ia ingin mengejar cintanya, suaminya ke alam sana.

Satu hal yang tak pernah disadari olehnya hanyalah kekuatan dari Tuhan. Ia selalu berusaha keras tetapi tak pernah mempercayainya. Ya kini semua terlambat memang. Gambar gambar kemenangan itu memang benar adanya. Indonesia mendapatkan kemerdekaan dengan mengerahkan semuanya, tenaga dan doa dan pada akhirnya Tuhan mengijinkan kebahagiaan itu datang.

The End

Rumah Kedua

Rumah

Sudah hampir beberapa bulan belakangan ini aku merasa kehilangan jiwa di rumahku. Rumah yang telah kukenal selama hampir delapan tahun belakangan ini. Dahulu, rumahku itu sangat sering aku sambangi, dengan berbagai alasan yang pasti, yang paling jelas ialah rumah itu menjadi salah satu pelampiasanku ketika aku sedang memiliki banyak beban dan masalah.

Pelarian lebih tepatnya.

Namun, apabila aku memikirkannya secara berulang-ulang lagi, bukankah seharusnya aku tetap mengunjungi rumahku tersebut meskipun memang bukan kalanya aku sedang memiliki banyak beban dan masalah.

Ah ya sudahlah.

Sekarang aku memiliki rumah keduaku disini, proses berpindah yang tidak lama bukan berarti menjadikan aku lupa akan rumahku yang sebelumnya, justru sebaliknya, bukankah tidak menutup kemungkinan nantinya aku akan sering sering mengunjungi kedua rumahku secara bersamaan, well who knows?

 

-Farida